Rabu, 18 Juni 2014

KESEHATAN TANAH



Tanah sehat dan subur merupakan sistem hidup dinamis yang dihuni oleh berbagai organisme (mikro flora, mikro fauna, serta meso dan makro fauna). Organisme tersebut saling berinteraksi membentuk suatu rantai makanan sebagai manifestasi aliran energi dalam suatu ekosistem untuk membentuk tropik rantai makanan. Dalam ekosistem tanah, tropik rantai makanan dimulai dari tropik level pertama, yaitu kelompok organisme (tanaman dan bakteri) produsen yang mampu memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energinya. Selanjutnya diikuti oleh tropik kedua hingga ke tingkat tropik yang tertinggi. Hal ini berarti, bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun tidak langsung. Kesehatan tanah dapat dievaluasi secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan indikator seperti kemampuan tanah sebagai media tumbuh tanaman maupun mikroba (Simarmata 2003).
Tanah supresif adalah tanah yang kaya akan mikroba tanah, sehingga kondusif untuk pertumbuhan tanaman, dan dapat menekan perkembangan mikroba patogen. Penggunaan mikroba tanah dalam pertanaman dapat membantu penyediaan nitrat, fosfat dan kalium serta unsur hara lainnya sehingga dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman di lapangan  (Doran 2000).
Patogen tular tanah (soil-borne pathogens) merupakan kelompok mikroorganisme yang sebagian besar siklus hidupnya berada di dalam tanah dan memiliki kemampuan untuk menginfeksi perakaran atau pangkal batang, sehingga dapat menyebabkan infeksi dan kematian bagi tanaman. Ciri-ciri utama dari patogen tular tanah adalah mempunyai stadia pemencaran dan masa bertahan yang terbatas di dalam tanah, walaupun beberapa patogen tular tanah ini dapat menghasilkan spora udara sehingga dapat memencar ke areal yang lebih luas (Hidayah et al 2009).
Penyakit busuk pangkal pada Bawang Merah berkembang pesat pada suhu tanah 21-33 0C, dengan suhu optimum 28 0C, serta kelembaban tanah tinggi. Serangan hebat terjadi pada tanah yang mengandung banyak kalium, atau tanah yang mengandung bahan organik (BO) yang tinggi tetapi drainase buruk. Suhu yang meningkat selain membantu pertumbuhan Fusaiurm oxysporum, dapat mengakibatkan pelunakan pada akar tanaman yang menyebabkan akar tanaman menjadi mudah luka dan dengan pelunakan dan luka pada perakaran tersebut sangat memudahkan patogen dalam proses penetrasi pada tanaman inang (Agrios 2005).
Temperatur optimum untuk pertumbuhan F.oxysporum f. sp. cepae berkisar antara 24 0C sampai 27 0C yang berpengaruh pada diameter koloni dan berat kering setelah 146 dan 177 jam. Suhu tanah dapat menjadi faktor utama yang memberikan respon untuk perkembangan busuk pangkal bawang yang disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporum dalam kondisi lahan di pegunungan, yang umumnya dingin dalam sebagian stadium pertumbuhannya (Abawi & Lorbeer 1972: dalam Choiruddin et al 2010).


DAFTAR PUSTAKA

Abawi & Lorbeer 1972: Dalam Choiruddin, M. Rizqi. 2010. Virulensi Dan Keanekaragaman Genetika  Fusarium Oxysporum F. Sp. Cepae Penyebab Busuk Pangkal Pada Bawang Putih. Skripsi S1Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret.
Agrios G N 2005. Plant Pathology. 4th Ed. Academic Press. San Diego California. 633p.
Doran JW 2000. Soil Health and Sustainability: Managing the Biotic Component of Soil Quality. Applied Soil Ecology. (14): 223-229.
Hidayah Nurul & Djajadi 2009. Sifat-sifat Tanah yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen Tular Tanah pada Tanaman Tembakau. Perspektif Vol. 8 No. 2. Hlm 74- 83
Narisawa K Shimura F Usuki S Fukuhara and T Hashiba 2005. Effects of pathogen density, soil moisture, and soil pH on biological control of clubroot in Chinese cabbage by Heteroconium chaetospira. Plant Disease 89 (3): 285-290.
Simarmata T Sumarni Y & Arief DH  2003. Teknologi Bioremediasi Untuk Mempertahankan Keberlanjutan Kesehatan Tanah Dan Produktivitas Tanaman Pada Ekosistem Lahan Kering Dalam Era Pertanian Ramah Lingkungan Di Indonesia. Makalah dipresentasikan pada Seminar Kajian Keilmuan Pertanian Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung 14 Juli 2003.

PERAN BIOTA DALAM PEROMBAKAN BAHAN ORGANIK

Pertanian konvensional selain menimbulkan dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis, ternyata pemberian input berupa pupuk anorganik juga banyak menimbulkan masalah. Sulistyowati (1999), menyatakan bahwa akibat penggunaan pupuk kimia, tanah menjadi keras, sehingga energi yang dibutuhkan untuk mengolah tanah menjadi lebih berat. Cacing-cacing tanah yang berfungsi menggemburkan tanah secara alami tidak mampu mengikuti kecepatan penguraian yang diperlukan manusia.
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari bahan organik, seperti hijauan (jerami, batang pisang, dan hijauan lainnya} dan kotoran hewan (kotoran kambing, sapi, ayam, kelinci, kerbau, dan sebagainya). Sebelum digunakan bahanbahan tersebut terlebih dahulu difermentasikan. Pupuk kandang atau kornpos biasanya dicampur dengan bahan-bahan alami lainnya yang berada di lahan pertanian atau di sekitarnya (Andoko 2002).
Secara ekologi, cacing tanah terbagi dalam 3 kelompok yaitu epigeik, endogeik dan aneciqueik. Ketiga kelompok tersebut memiliki kontribusi yang bervariasi terhadap kesuburan tanah. Cacing epigeik merupakan cacing tanah yang hidup dan aktif pada lapisan permukaan tanah, tidak membuat lubang dan pemakan serasah. Cacing endogeik ukuran tubuh lebih besar dan peranannya penting dalam penyuburan solum tanah, karena pergerakannya cepat sehingga aktif membuat lubang di tanah. Cacing aneciqueik mempunyai bobot yang paling berat dari kelompok lainnya, dengan kebiasaan makan dan membuang kotoran di permukaan tanah, sehingga berperan dalam meningkatakan kesuburan tanah lapisan atas. Bila dikaitkan dengan kedalaman perakaran tanaman, tipe endogeik akan lebih cepat pengaruhnya terhadap tanaman keras atau tanaman tahunan, sedangkan tipe epigeik dan aneciqueik akan lebih terlihat pengaruhnya pada tanaman semusim atau yang berakar dangkal (Hanafiah et al 2010).
Populasi cacing tanah tertinggi terdapat pada musim penghujan (kadar air 12-30 %) dan populasinya akan menurun pada musim kemarau. Cacing Aporrectodea caliginosa yang termasuk spesies epigeik dan akutik umumnya dijumpai pada lahan yang diairi, sedangkan Lumbricus rubellus mampu menembus tanah hingga lapisan lebih dalam, tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya pengairan. Pada tanah-tanah tergenang, populasi cacing tanah umumnya rendah. Penyebaran, kepadatan dan keragaman cacing tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan lengas tanah, jenis tanah, vegetasi dan pH
 (Brady et al 2002).
Cacing tanah hidup kontak langsung dengan tanah dan memiliki kontribusi penting terhadap proses siklus unsur hara di dalam lapisan tanah, tempat akar tanaman terkonsentrasi. Selain itu lubang yang dibuat cacing tanah sering merupakan proporsi utama ruang pori makro di dalam tanah, sehingga cacing tanah dapat secara nyata mempengaruhi kondisi tanah yang berhubungan dengan hasil tanaman (Ansyori 2004).
Proses pengomposan pada vermikompos dilakukan melalui tiga tahap, yaitu : pengadaan cacing tanah, perbanyakan cacing tanah dan proses pengomposan. Kelebihan model pengomposan ini yaitu dapat dilakukan di wilayah pemukiman padat dengan menggunakan kotak kayu berukuran kecil. Dalam pembuatan vermikompos hanya ada beberapa jenis cacing yang sangat aktif dalam perombakan organik. Jenis cacing yang paling efisien  dalam pengomposan adalah Eiscenia fetida dan E. eugeniae, sedangkan jenis yang cukup baik adalah berasal dari genus Perionyx (Sutanto 2002).
Bahan organik tanaman merupakan sumber energi utama bagi kehidupan biota tanah, khususnya makrofauna tanah, sehingga jenis dan komposisi bahan organik tanaman menentukan kepadatannya. Bahan organik tanaman akan mempengaruhi tata udara pada tanah dengan adanya jumlah pori tanah karena aktivitas biota tanah. Oleh aktivitas biota tanah, bahan organik tanaman dirombak menjadi mineral dan sebagian tersimpan sebagai bahan organik tanah. Bahan organik tanah sangat berperan dalam memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan aktivitas biologi tanah dan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman (Sugiyarto 2007).
Peran aktif mesofauna dan makrofauna tanah dalam menguraikan bahan organik dapat mempertahankan dan mengembalikan produktivitas tanah dengan didukung faktor lingkungan disekitarnya. Keberadaan dan aktivitas mesofauna dan makrofauna tanah dapat meningkatkan aerasi, infiltrasi air, agregasi tanah, serta mendistribusikan bahan organik tanah sehingga diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan keanekaragaman mesofauna dan makrofauna tanah (Wulandari 2005). 
Cacing tanah epigeic peran utamanya adalah sebagai aktor pelumat dan pemotong seresah daun dan mentransformasikan menjadi bahan organik yang lebih stabil cacing ini tidak membentuk liang, berukuran kecil dan berwarna. Cacing tanah anesic makan tanah dan seresah dipermukaan tanah kemudian dibawa masuk kedalam tanah, cacing ini berukuran besar; untuk bagian dorsal berwarna. Untuk cacing tanah endogeik adalah cacing tanah yang hidup dan memperoleh makanan didalam tanah, cacing ini tidak berwarna (Dewi 2007).


DAFTAR PUSTAKA

Andoko A 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ansyori 2004. Potensi Cacing Tanah Sebagai Alternatif Bio-Indikator Pertanian Berkelanjutan. IPB. Bogor. Makalah Falsafah Sains (PPS 702).
Brady NC and Weil RR 2002. The Nature and Properties of Soils. Thirtheenh Edition. Pearseon Education, Inc. Upper Saddle River, New Jarsey. 960 hal.
DewiWS 2007. Dampak Alih Guna Hutan Menjadi Lahan Pertanian: Perubahan Diversitas Cacing Tanah dan Fungsinya Dalam Mempertahankan Pori Makro Tanah. Desertasi: Program Pasca Sarjana Fakultas Pertanian Unibraw. Malang.
Hanafiah 2005. Biologi Tanah, Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hanafiah KA A Napoleon N Ghofar 2010. Biologi tanah: Ekologi dan makrobiologi tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sugiyarto 2007. Preferency of soil macrofauna to crops residue at different light intensity. Biodiversitas vol. 8, no. 2.
Sulistyowati A 1999. Pertanian Organik dalam Sejarah Peradaban. Jakarta: Wacana edisi 17 Mei-Juni 1999,
Sutanto Rachman 2002. Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.
Wulandari Suteni et al 2005. Decomposition Of Crop Organic Matters And Their Influence To Diversity Of Soil Mesofauna And Macrofauna Under Paraserianthes’stand (Paraserianthes Falcataria). Bioteknologi 4 (1): 20-27.

Random