Tampilkan postingan dengan label botani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label botani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

TIPE BIBIT



Pertumbuhan tanaman dimulai dengan perkecambahan biji. Dari saat itu, kulit biji pecah, tanaman muda mengalami sejumlah proses yang penting untuk kelangsungan hidupnya. Difusi untuk contohnya, membawa air dari tanah ke dalam akar tanaman.  Fotosintesis memungkinkan tanaman untuk menggunakan sinar matahari untuk membuat makanan sendiri dan respirasi menggunakan beberapa makanan yang diproduksi selama fotosintesis untuk menciptakan energi yang tanaman memerlukan untuk melakukan semua kegiatan yang diperlukan untuk hidup (Michael 2011).
Bibit yaitu tumbuhan kecil yang dipergunakan untuk produksi. Bibit berasal dari bukan biji hasil persilangan. Ada tiga cara pembuatan bibit atau pembiakan vegetatif, yaitu berasal dari batang (cangkok, okulasi, stek) dan berasal dari bukan dari batang yaitu menggunakan bahan media tumbuh bukan dari tanah tetapi dari media buatan atau kultur jaringan. Bibit merupakan salah satu penentu keberhasilan budi daya tanaman. Budidaya tanaman sebenarnya telah dimulai sejak memilih bibit tanaman yang baik. Hal ini dapat dimengerti karena bibit merupakan obyek utama yang akan dikembangkan dalam proses budi daya selanjutnya. Selain itu, bibit juga merupakan pembawa gen dari induknya yang menentukan sifat tanaman tersebut setelah berproduksi. Dengan demikian, untuk memperoleh tanaman yang memiliki sifat tertentu dapat diperoleh dengan memilih bibit yang berasal dari induk yang memiliki sifat tersebut (Edmond et al. 2001).
Pada bibit dibedakan dengan dua struktur pokok yaitu hipokotil dan epikotil. Hipokotil adalah bagian batang antara kotiledon dan radikel dari embrio atau bibit muda. Epikotil adalah bagian batang anatara kotiledon dengan daun pertama dari embrio atau bibit muda. Bagian-bagian yang terdapat pada bibit yaitu kotiledon, hipokotil, epikotil, radikel, rambut akar, akar primer, akar lateral dan daun pertama. Akar primer tumbuh dari radikel, sedangkan akar lateral dan akar rambut tumbuh dari akar primer. Pada tanaman, yang berfungsi mempertahankan kehidupan dan meneruskan pertumbuhan selanjutnya adalah akar rambut. Kotiledon pada bibit berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan. Daun yang tumbuh asalnya adalah dari plumula (Sutopo 2002).
Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung. Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau dan jarak. Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk memperkirakan kedalaman tanam (Setiawan 2004).
Kualitas benih ditentukan antara lain oleh tingkat kemasakan biji yang dalam proses perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah. Benih yang berasal dari buah yang masih muda kualitasnya akan jelek, karena benih akan menjadi tipis, ringan, dan berkeriput apabila dikeringkan serta daya hidupnya sangat rendah. Dalam hal ini kemungkinan embrio belum berkembang sempurna dan cadangan makanan pada endosperm belum lengkap (Arief et al 2006).
Perkecambahan epigeal adalah perkecambahan yang menghasilkan kecambah dengan kotiledon terangkat ke atas permukaan tanah. Dalam proses perkecambahan, setelah radikel menembus kulit benih, hipokotil memanjang melengkung menembus ke atas permukaan tanah. Setelah hipokotil menembus permukaan tanah, kemudian hipokotil meluruskan diri dan dengan cara demikian kotiledon yang masih tertangkup tertarik ke atas permukaan tanah juga. Kulit benih akan tertinggal di permukaan tanah, dan selanjutnya kotiledon membuka dan daun pertama (plumula) muncul ke udara. Beberapa saat kemudian, kotiledon meluruh dan jatuh ke tanah. Beberapa contoh benih dengan perkecambahan epigeal adalah kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan lamtoro (Meilya 2010).
Perkecambahan hypogeal adalah perecambahan yang menghasilkan kecambah dengan kotiledon tetap berada di bawah permukaan tanah. Dalam proses perkecambahan, plumula dan radikel masing-masing menembus kulit benih. Radikel menuju ke bawah dilindungi oleh koleoriza dan plumula menuju ke atas dilindungi oleh koleoptil. Setelah kolepotil menembus permukaan tanah dari bawah mencapai udara, lalu membuka dan plumula terbebas dari lindungan koleoptil dan terus tumbuh dan berkembang, sedangkan koleotil sendiri berhenti tumbu. Beberapa contoh benih dengan perkecambahan epigeal adalah padi, jagung, dan sorgum (Schmidt 2000). 
Penyiapan bibit merupakan tahapan penting bagi pengembangan tanaman hutan dan perkebunan. Pada sisi lain, pertumbuhan dan perkembangan bibit di tingkat nurseri sangat ditentukan oleh keberhasilan biji atau benih membentuk semai yang diawali dengan perkecambahan benih. Secara agronomis, perkecambahan suatu biji (benih) diartikan sebagai semai yang telah atau mulai muncul di permukaan media tanam, sehingga secara teknis agronomis perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan aktif yang menghasilkan pecah kulit biji dan kemudian munculnya semai di permukaan tanah (Bambang et al 2007).


Bibit ialah tanaman kecil (belum dewasa) yang berasal dari pembiakan generatif (dari biji), vegetatif, kultur jaringan, atau teknologi perbanyakan lainnya. Selain itu, bibit juga dapat diperoleh dari kombinasi cara-cara perbanyakan tersebut. Bibit merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya tanaman. Budidaya tanaman sebenarnya telah dimulai sejak memilih bibit tanaman yang baik, karena bibit merupakan obyek utama yang akan dikembangkan dalam proses budidaya selanjutnya. Selain itu, bibit juga merupakan pembawa gen dari induknya yang menentukan sifat tanaman setelah berproduksi. Macam-macam tipe bibit ada dua yaitu tipe bibit hypogeal dan epigeal. Contoh tipe bibit hypogeal yaitu pada tanaman jagung sedangakan tipe bibit epigeal yaitu pada kacang tanah.
Perbedaan / karakteristik tipe hipogeal dan epigeal yaitu jarak tanam bibit hipogeal lebih luas daripada bibit epigeal karena bibit hipogeal mempunyai tipe akar serabut (perakaran dangkal) yang tumbuh menjalar ke samping kiri dan kanan. Supaya tidak terjadi kompetisi penyerapan hara dan air dari dalam tanah serta cahaya (dapat saling menaungi) antar maka dibuat dengan jarak yang lebar. Dengan demikian kebutuhan setiap tanaman akan terpenuhi secara sempurna dan tumbuh dengan baik. Sedangkan untuk bibit epigeal dengan tipe akar tunggang (perakaran dalam) yang tumbuh tegak ke dalam tanah, jarak tanamnya tidak perlu dibuat lebar karena mampu menyerap hara dan air dari dalam tanah yang jaraknya relatif agak dalam/jauh dari permukaan tanah. Mengetahui tipe perkecambahan suatu bibit bermanfaat untuk mengetahui ciri-ciri dari arah pertumbuhan biji dan membedakan satu dengan yang lainnya. Selain itu, akan bermanfaat dalam pengaplikasian di lapangan terutama teknik-teknik penanaman yang sesuai dengan tipe benih. Penanaman yang tepat akan menyebabkan benih berkecambah dengan baik menjadi tanaman baru.
Epigeal dan hipogeal merupakan tipe perkecambahan yang dilihat berdasarkan letak kotiledon. Pada perkecambahan hipogeal, terjadi pertumbuan memanjang dari epikotil (bakal batang) yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon tetap berada di dalam tanah. Singkatnya, biji tidak terdorong ke atas dan tetap berada di dalam tanah. Pada perkecambahan epigeal, Hipokotil (bakal akar) tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Pada perkecambahan epigeal, kotiledon berada di atas tanah. Singkatnya, biji terdorong ke atas dan muncul di permukaan tanah. Sebetulnya kedua tipe perkecambahan ini sama - sama tumbuh ke atas. Tetapi karena pada tipe epigeal, kotiledon/biji terdorong ke atas, maka sering disebut pertumbuhan ke atas, sedangkan pada tipe hipogeal, kotiledon/biji tetap berada di dalam tanah maka sering disebut pertumbuhan ke bawah. Pendapat ini hanya didasarkan pada letak kotiledon / biji saja, tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya karena semua jenis perkecambahan pasti akan tumbuh ke atas, ke arah datangnya sinar matahari.
Bibit tipe epigeal ini umumnya terdapat pada dicotiledoneae seperti bean, alfalfa, clovers, kacang kedelai, kacang tanah yang termasuk legume. Sewaktu perkecambahan bibit tipe hypogeal pada biji graminae, padi, gandum, jagung, kotiledon disini disebut scutellum tetap tinggal dalam tanah fungsinya sebagai organ penyerap makanan dari endosperm dan mengantarkannya kepada embryonic axis yang sedang tumbuh.
Kotiledon (disebut juga kotil atau daun lembaga) adalah bakal daun yang terbentuk pada embrio. Kotiledon merupakan organ cadangan makanan pada biji sekelompok tumbuhan, sekaligus organ fotosintetik pertama yang dimiliki oleh tumbuhan yang baru saja berkecambah. Walaupun bagi kecambah ia berfungsi seperti daun, kotiledon tidak memiliki anatomi yang lengkap seperti daun sejati. Fungsi kotiledon bagi prkembangan biji sangatlah penting, yaitu sebagai sumber cadangan makanan yang digunakan untuk proses pertumbuhan dari terbentuknya kecambah sampai tumbuhan tersebut dapat membuat makanannya sendiri yang ditandai dengan terbentuknya daun yang sempurna dan kotiledonnya mulai rontok/mengecil. Selama biji berkecambah, energi yang digunakan untuk proses tersebut berasal dari kotiledon dan ketika telah terbentuk daun maka cadangan makanan dari kotiledon telah habis terpakai sehingga kotiledonnya akan mengecil dan rontok. setelah itu fungsi kotiledon digantikan oleh daun, yaitu sebagai sumber energi melalui fotosintesis. Tumbuhan dikotil apabila kotiledonnya diambil satu, masih bisa tumbuh tetapi mungkin pertumbuhannya tidak secepat tumbuhan yang memiliki dua kotiledon.
Bagian-bagian dari tipe bibit epigeal adalah kotiledon, epikotil, hipokotil, plumula dan radikel. Bagian-bagian dari tipe bibit hipogeal adalah kotiledon, plumula dan radikel. Fungsi kotiledon sebagai tempat menyimpan cadangan makanan, alat untuk fotosintesis sebelum terbentuknya daun, alat untuk mengisap makanan oleh embrio. Fungsi epikotil sebagai tempat munculnya calon batang yang terletak di atas daun lembaga. Fungsi hipokotil yaitu tempat munculnya calon batang yang terletak di bawah daun lembaga. Plumula berfungsi sebagai bagian tanaman yang akan mengalami perkembangan ke atas untuk membentuk batang dan daun. Radikula berfungsi sebagai berfungsi sebagai akar dan diselubungi oleh sarung akar lembaga yang disebut koleoriza. Beberapa jenis tanaman yang mengalami perkecambahan epigeal dan hipogeal antara lain:
a.       Epigeal : Kacang tanah, Kacang hijau, Tanaman jarak
b.      Hipogeal : Kacang kapri, Jagung, Padi
Pada praktikum ini menggunakan alat cangkul dan polybag. Cangkul gunanya untuk mengambil tanah yang akan dimasukkan ke dalam polybag. Bahan tanam yang digunakan yaitu biji jagung dan biji kacang tanah. Biji jagung merupakan biji monokotil sedangkan biji kacang tanah merupakan biji dikotil. Dalam praktikum ini menggunakan biji jagung dan kacang tanah untuk mengetahui perbedaan tipe bibit dari masing-masing tanaman tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada tanaman jagung merupakan tipe bibit hypogeal dan pada tanaman kacang tanah merupakan tipe bibit epigeal. Hal ini dikarenakan pada tanaman jagung, saat berkecambah kotiledon tetap berada di dalam tanah sedangkan pada kacang tanah kotiledon tertarik ke atas permukaan tanah. Tinggi tanaman jagung pada hari ketiga adalah 2,2 cm. Tinggi tanaman jagung pada hari kelima adalah 8 cm. Panjang akar tanaman jagung pada hari ketujuh adalah 0 cm. Sedsngkan tanaman bawang tidak tumbuh sama sekali. Ketiga tanaman jagung ini memiliki 2 daun yang mulai tumbuh pada hari ketiga. Tanaman kacang tanah yang tumbuh 12 daun pada hari ketujuh.
Bagian-bagian dari benih yang berkecambah adalah radikel, plumula, daun, kotiledon, batang. Fungsi radikel untuk menyerap bahan-bahan makanan yang terdapat di dalam tanah. Fungsi daun untuk proses transpirasi, respirasi, dan fotosintesis. Fungsi plumula sebagai bagian tanaman yang akan mengalami perkembangan ke atas untuk membentuk batang dan daun. Fungsi batang untuk menyokong berdirinya tanaman dan sebagai jalur transportasi. 
Manfaat mengetahui tipe bibit yaitu untuk mengetahui tipe-tipe perkecambahan pada masing-masing tanaman. Setiap tanaman memiliki tipe perkecambahan yang berbeda. Selain itu, untuk mengetahui proses perkecambahan pada biji. Tipe bibit bisa digunakan untuk membedakan antara tanaman monokotil dan dikotil.



DAFTAR PUSTAKA
Arief R S Saenong Azrai M dan Rahmawati 2006. Pengelolaan benih         Jagung. J. Penelitian Pertanian 25(3): 41-47.  
Bambang BS Hariyadi Bambang S P 2007. Tinjauan Agro-Morfologi Perkecambahan Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Jurnal Penelitian Sain dan Teknologi  2 (12) : 69-76.  
Edmond J B T L Senn dan F S Andrews 2001. Fundamentals of     Horticulture. Mc Grown – Hill Book Company. New York.   
Meilya Nixie 2010. Fisiologis Benih, Biologi Benih, dan Wawasan Teknologi Benih. http://meycess.blogspot.com. Diakses 6 Mei 2013.  
Michael A 2011. Reproduction, Growth, and Ecology. Britannica Educational Publishing. New York. 
Schmidt L 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Terjemahan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan. Jakarta.
Setiawan A I 2004. Kiat Memilih Bibit Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sutopo Lita 2002. Teknologi Benih. Grafindo Persada. Jakarta.

PERKEMBANGAN BIJI



Bunga kacang tanah mulai muncul dari ketiak daun pada bagian bawah tanaman yang berumur antara 4-5 minggu dan berlangsung hingga umur sekitar 80 hari setalah tanam. Bunga berbentuk kupu-kupu (papilionaceus), berukuran kecil dan terdiri atas lima daun tajuk. Dua diantar daun tajuk tersebut bersatu seperti perahu. Di sebelah atas terdapat sehelai daun tajuk yang paling lebar yang dinamakan bendera (vexillum), sementara di kanan dan kiri terdapat dua tajuk daun yang disebut sayap (ala). Setiap bunga bertangkai berwarna putih. Tangkai bunga sebenarnya adalah tangkai kelopak. Mahkota bunga (corolla) berwarna kuning atau kuning kemerah-merahan Tahapan pembungaan pada kacang tanah meliputi: 1)  Induksi bunga (evokasi) adalah tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif. Terjadi di dalam sel. Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel. 2)  Inisiasi bunga adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya. Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif. (Pitojo 2005).
Tanaman keras ternyata mempunyai periode inisiasi dan pembungaan yang sangat beragam. Pada umumnya periode antara inisiasi dan pembungaan berkaitan dengan sifat tumbuhnya yang juga dipengaruhi oleh iklim. Kebanyakan tanaman tropis dan subtropis mempunyai periode inisiasi bunga dan antesis yang sangat singkat. 3) Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar) ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga. Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina. 4) Anthesis merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga. Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis. Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan       (Fatihatul 2012).
Faktor iklim mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Suhu, cahaya dan curah hujan mempengaruhi laju fotosintesis dan respirasi sehingga berimplikasi pada pertumbuhan dan perkembangbiakan kacang tanah, yang berpengaruh pada komponen hasil. Intensitas cahaya yang rendah mengurangi jumlah ginofor, jumlah polong dan berat polong (Andrianto dan Indarto 2004).
Persentase tumbuh menunjukkan bahwa proses perkecambahan biji merupakan suatu rangkaian komplek dari perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia. Tahap pertama dimulai dari penyerapan air oleh biji, melunaknya kulit biji, dan hidrasi oleh protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi biji. Tahap ketiga berupa penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein menjadi bentuk terlarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan di daerah enzimatik ke daerah meristimatik untuk menghasilkan energi untuk pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan kecambah melalui proses pembelahan dan pembesaran. Pada saat daun belum berfungsi untuk fotosintesis, maka pertumbuhan kecambah sangat bergantung pada persediaan makanan di dalam biji (Nurul dan ninik 2006).
Cahaya merupakan faktor utama sebagai energi dalam fotosintesis, untuk menghasilkan energi. Kekurangan cahaya akan mengganggu proses fotosintesis & pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Kekurangan cahaya pada saat pertumbuhan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah & daunnya berukuran lebih kecil, tipis, pucat. Pengaruh cahaya bukan hanya tergantung kepada fotosintesis (kuat penyinaran) saja, namun ada faktor lain yang terdapat pada cahaya, yaitu berkaitan dengan panjang gelombangnya (Gumilar dan Agung 2013).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang sangat kompleks dan rumit. Kedua proses ini bergantung antara lain pada berbagai hormon yang telah diidentifikasi sebagai IAA, giberelin, sitokinin, etilen dan asam absisat. Walaupun hormon di atas memiliki fungsi tertentu, pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan hasil interaksi aktivitas kelima hormon di atas (Reginawanti Hindersah dan Tualar Simarmata 2004).
Ketersediaan air di lingkungan sekitar benih merupakan faktor penting. Kurang tersedianya air pada lingkungan benih akan menyebabkan jumlah air yang diambil untuk berkecambah menjadi semakin rendah atau tidak terpenuhi. Hal ini dapat berpengaruh besar pada proses perkecambahan. Jika jumlah air yang diserap tidak mencapai kebutuhan minimum maka proses perkecambahan tidak akan pernah terjadi. Ada batas minimum serapan air yang harus dilampaui agar perkecambahan dapat berlangsung (Bewley 1982).
Fase vegetatif pada tanaman kacang tanah dimulai sejak perkecambahan hinggaawal pembungaan yang berkisar antara 26 hingga 31 hari setelah tanam dan selebihnyaadalah fase reproduktif. Fase vegetatif tersebut dibagi menjadi 3 stadia yaituperkecambahan, pembukaan kotiledon dan perkembangan daun bertangkai empat(tetrafoliate). Proses perkecambahan hingga munculnya kotiledon ke permukaan tanahberlangsung selama 4-6 hari. Keesokan harinya kotiledon tersebut terbuka (Trustinah 1992).
Setelah pemunculan dan terbukanya kotiledon, batang akan memanjang dan tunaspucuk akan berkembang diikuti oleh perkembangan dua tunas (lateral). Daun kacangtanah muncul dari buku pada batang utama atau cabang.Penandaan fase reproduktif didasarkan atas adanya bunga, buah dan biji.Trustinah (1986) membagi fase reproduktif kacang tanah menjadi 9 stadia yaitu: mulaiberbunga (R1), pembentukan ginofor (R2), pembentukan polong (R3), polongpenuh/maksimal (R4), pembentukan biji (R5), biji penuh (R6), biji mulai masak (R7), masak panen (R8) dan polong lewat masak (R9) (Kasno et al. 2001)
Buah kacang tanah disebut polong. Polongnya terbentuk setelah terjadi pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, bakal buah tumbuh memanjang. Inilah yang disebut ginofora yang nantinya akan menjadi tangkai polong. Mula-mula ujung ginofora yang runcing mengarah ke bawah dan selanjutnya masuk kedalam tanah. Pada waktu ginofora menembus tanah, peranan hujan sangat membantu. Setelah terbentuk polong, pertumbuhan memanjang ginofora akan terhenti. Panjang ginofora dapat mencapai 18 cm. ginofora yang terbentuk di cabang bagian atas tidak masuk kedalam tanah sehingga tidak akan membentuk polong (Suprapto 2004).
Imbibisi pada benih yang dilakukan secara tiba-tiba apalagi terhadap benih dengan kadar air sangat rendah dan benih yang mengalami penyimpanan yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu kondisi dimana imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan secara optimal (Khan 1992).
 Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dimulai saat embrio atau biji. Biji yang biasa ditemukan pada umumnya berada dalam fase dorman atau istirahat. Pada fase ini biji dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti musim dingin atau pada saat kekeringan. Penyerapan air dan suhu lingkungan menunjang pertumbuhan biji. Adanya imbibisi akan mengaktifkan enzim-enzim untuk memulai perkecambahan. struktur yang pertama keluar dari biji adalah radikula yang akan membentuk akar primer (Revanz 2011).

Pertumbuhan tanaman di tandai dengan bertambahnya sel-sel di dalam jaringan tanaman sehingga menjadi semakin besar sedangkan perkembangan di tandai dengan semakin matang atau dewasanya tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman terdiri dari dua fase yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Fase generatif terjadi pada saat terjadi proses penyerbukan, sedangkan fase vegetatif terjadi pada saat masa juvenil dengan pembentukan organ-organ tanaman hingga tanaman memasuki masa dewasa.
Fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang baru. Fase ini berhubungan dengan tiga proses penting yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel dan tahap pertama dari diferensiasi sel. Pada fase generatif ditandai dengan munculnya bunga.
Pembelahan sel terjadi pada pembuatan sel-sel baru. Pembelahan sel terjadi dalam jaringan merismatis pada titik tumbuh batang daun ujung akar dan kambium. Perpanjangan sel terjadi pada pembesaran sel-sel baru tersebut. Daerah pembesaran sel-sel berada di belakang titik tumbuh. Vakuola secara relatif menghisap air dalam jumlah besar. Akibat dari absorpsi air ini dan adanya hormon perentang sel, sel-sel memanjang.  Tahap diferensiasi sel, atau pembentukan jaringan terjadi pada perkembangan jaringan-jaringan primer. Perkembangannya memerlukan karbohidrat, seperti penebalan dinding dari sel-sel pelindung pada epidermis batang dan perkembangan pembuluh-pembuluh kayu baik di batang maupun di akar.
Fase reproduktif  berhubungan dengan proses pembelahan sel relatif sedikit, pendewasaan jaringan, penebalan serabut, pembentukan hormon untuk perkembangan kuncup bunga, perkembangan kuncup bunga, buah dan biji serta alat penyimpan dan pembentukan koloid hidrofilik. Fase reproduktif ini memerlukan suplai karbohidrat, sehingga karbohidrat yang digunakan untuk perkembangan akar, batang, dan daun sebagian disisakan untuk perkembangan bunga, buah dan biji serta alat penyimpan
(Susilowarno, et al.2007).
Hasil pengamatan yang dilakukan pada perkembangan biji adalah terhadap tinggi perakaran, tinggi batang, tinggi tanaman seluruhnya, jumlah polong dan jumlah biji. Pada kacang hijau panjang perakaran adalah 15,5 cm, dan pada kacang tanah panjang perakaran adalah 18 cm. Tinggi batang pada kacang hijau dan kacang tanah berturut-turut adalah 18 cm dan 34 cm. Lama berbunga tanaman kacang tanah adalah 31 HST sedangkan untuk tanaman kacang hijau 30 HST. Kacang tanah memerlukan waktu 12 hari untuk masuk pada fase pembentukan biji dan terdapat 1 polong yang masih muda untuk  tanaman kacang tanah. Tanaman kacang hijau tidak menghasilkan biji pada praktikum kali ini sehingga tidak membentuk adanya polong.
Tahapan pertumbuhan kacang tanah yaitu:
a.         Fase muncul lapang (emergence)
Benih kacang tanah yang ditanam pada kondisi yang sesuai untuk perkecambahan akan segera berkecambah dan akan muncul ke atas permukaan tanah (muncul lapang) setelah 5 sampai 7 hari. Seminggu setelah itu, akan segera terbentuk sepasang daun tetrafoliate yang membuka sempurna dan dapat melakukan fotosintesis
b.         Fase pertumbuhan vegetatif
Setelah muncul lapang, tanaman kacang tanah akan mengalami pertumbuhan vegetatif sampai awal muncul atau terbentuknya bunga. Periode ini umumnya terjadi pada periode 2–6 minggu setelah tanam.Pertumbuhan vegetatif ini juga masih terjadi setelah tanaman mulai berbunga tetapi dengan kecepatan yang berkurang.
c.         Fase pembungaan dan pembentukan ginofor
Fase ini diawali dengan pembentukan bunga. Setelah bunga terbentuk terjadi penyerbukan sendiri yang dilanjutkan dengan proses pembuahan. Pembuahaan yang berhasil akan dilanjutkan dengan pembentukan ginofor. Fase ini akan berlangsung pada periode tanaman umur 6 – 8 minggu setelah tanam. Ginofor ini akan masuk ke dalam tanah dan membentuk polong, ginofor yang tidak masuk ke dalam tanah tidak dapat membentuk polong. Oleh karena itu, pada periode ini perlu dilakukan pembumbunan dengan menaikkan tanah dari samping kiri dan kanan barisan tanaman yang diarahkan ke pangkal batang tanaman.
d.        Fase pembentukan polong dan pengisian biji
Setelah ginofor masuk ke dalam tanah akan dilanjutkan dengan pembentukan polong. Di dalam polong yang terbentuk terdapat biji. Biji ini akan diisi asimilat hasil fotosintesis sampai pada ukuran maksimal tertentu, yang berbeda tergantung varietas. Pengisian biji akan berakhir pada saat biji telah terisi penuh yang ditandai oleh biji yang keras dengan kulit mengkilat, sekaligus sebagai tanda kacang tanah dapat dipanen.
Tahapan pertumbuhan kacang hijau yaitu:
a.         Fase muncul lapang (emergence)
Benih kacang hijau yang ditanam pada kondisi yang sesuai untuk perkecambahan akan segera berkecambah dan akan muncul ke atas permukaan tanah (muncul lapang) setelah 5 sampai 7 hari. Seminggu setelah itu, akan segera terbentuk sepasang daun trifoliate yang membuka sempurna dan dapat melakukan fotosintesis.
b.         Fase pertumbuhan vegetatif
Setelah muncul lapang, tanaman kacang hijau akan mengalami pertumbuhan vegetatif sampai awal muncul atau terbentuknya bunga. Periode ini umumnya terjadi pada periode 2 – 6 minggu setelah tanam. Pertumbuhan vegetatif ini juga masih terjadi setelah tanaman mulai berbunga tetapi dengan kecepatan yang berkurang.
c.         Fase pembungaan
Fase ini diawali dengan pembentukan bunga. Setelah bunga terbentuk terjadi penyerbukan sendiri yang dilanjutkan dengan proses pembuahan. Pembuahaan yang berhasil akan dilanjutkan dengan pembentukan polong. Pembungaan akan terus terjadi walaupun sebagian bunga telah berkembang menjadi polong.
d.        Fase pembentukan polong dan pengisian biji
Polong yang terbentuk setelah terjadi pembuahan mengalami pertumbuhan sampai pada ukuran tertentu. Selama pertumbuhan tersebut, di dalamnya terjadi pembentukan dan pengisian biji. Pemasakan biji dianggap selesai apabila polong telah mencapai ukuran maksimum. Selanjutnya biji di dalam polong akan mengalami proses pematangan yang ditandai oleh perubahan warna polong yang pada umumnya dari hijau menjadi hitam, sekaligus sebagai tanda polong siap dipanen.
Struktur bunga atau bagian-bagian bunga sangat beragam, walaupun demikian terdapat pola umum dari berbagai macam tumbuhan. Bunga terbentuk pada tangkai khusus yaitu tangkai bunga atau pedicellus. Pada apeks yang membesar tersusun bagian-bagian bunga. Salah satu bagian bunga adalah kelopak bunga (calyx) dimana biasanya bagian ini menumpang pada daun kelopak berwarna hijau (sepalum). Kelopak bunga berfungsi menutup atau bunga pada saat masih kuncup. Sedangkan bagian yang paling menonjol adalah daun mahkota bunga (petalum) yang secara kolektif disbeut mahkota (corolla). Calyx dan corolla bersama-sama membentuk hiasan bunga atau perianth. Petal dapat berwarna putih, merah, jingga, kuning, biru dan sebagainya. Benang sari dengan serbuk sari sebagai alat kelamin jantan, putik sebagai alat kelamin betina, dasar bunga dan tangkai bunga sebagai tempat kedudukan bunga.
Bunga yang memiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, dasar bunga dan putik disebut bunga sempurna. Jika memiliki semua bagian kecuali putik, maka disebut bunga jantan. Sedangkan, jika memiliki semua bagian kecuali benang sari disebut bunga betina. Bunga yang memiliki benang sari dan putik disebut hermaprodit.
Tahapan dalam pembentukan biji yaitu induksi bunga, inisiasi bunga, perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar), anthesis, penyerbukan dan pembuahan, perkembangan buah muda menuju kemasakan buah dan biji.
Induksi bunga (evokasi) adalah tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif, terjadi di dalam sel. Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
Inisiasi bunga adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya. Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif.
Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar)  ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga. Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina. Anthesis merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga.  Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina.




Andrianto TT Indarto N 2004. Budidaya dan Analisis Usaha Tani Buncis, Kacang Tanah, Kacang Tunggak. Yogyakarta: Absolut.
Bewley J D and M Black 1982. Physiology and Biochemistry of Seeds in Relation to Germination. Springer-Verlag.New York.
Fatihatul Diana 2012. Pembungaan dan Pembuahan pada Kacang Tanah. http://dianafatihatul. blogspot.com/. Diakses pada tanggal 10 Mei 2014 pukul 21.30 WIB.
Gumilar Agung 2013. Pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau. http://kemoed.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 9 Mei 2014 pukul 21.00 WIB.
Hani 2010. Perkembangan Biji. Diakses dari www.scribd.com. Diaksespada 27 Mei 2013
Hanifah 2005. Pertumbuhan dan Perkembamgan Biji.  http://www.scribd.com/. Diakses pada tanggal 10 Mei 2014 pukul 20.00 WIB.
Kasno A N Nugrahaeni J Purnomo Sumartini dan Trustinah 2001. PembentukanVarietas Kacang Tanah Hasil Stabil dan Beradaptasi Luas. Studi Kasus Varietas Jerapah. Buletin Palawija.Vol. 1 (2) : 1-14.
Khan AA JD Maguire GS Abawi and S Ilyas 1992. Matri conditioning of Vegetable Seeds to Improve Stand Establish men yin Early Field Plantings. Journal American Society Horticulture Science.Vol. 117(1): 41-47.
Nurul Sumiasri dan Ninik Setyowati. 2006. Pengaruh Beberapa Media pada Pertumbuhan Bibit Eboni (Diospyros celebica Bakh) melalui Perbanyakan Biji. Biodiversitas Volume 7. Nomor 3 Halaman: 260-26
Pitojo, Setijo. 2005. Benih Kacang Tanah. Kanisius Yogyakarta.
Reginawanti Hindersah dan Tualar Simarmata. 2004. Potensi Rizobakteri Azotobacter dalam meningkatkan Kesehatan Tanah. Jurnal Natur Indonesia. Vol. 5 No. 2:Halaman 127-133.
Revanz, Rachmad. 2011. Tipe Meristem pada Tumbuhan. Diakses dari http://rachmadrevanz.com.Diaksespada 27Mei 2013. 
Somaatmadja, Sadikin. 1993. Proses Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1 Kacang-kacangan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sugoi, Magnae. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Biji Kacang Hijau. http://sahabatanakcerdas.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 8 Mei 2014 pukul 11.00 WIB.
Suprapto 2004. Bertanam Kacang Tanah. Diakses dari www.scribd.com.Diaksespada
Susilowarno, Gunawan, S. Hartanto, dan Mulyadi. 2007. Biologi 1. Grasindo. Jakarta.
Trustinah dan A. Kasno 1992. IndeksMasak Galur Kacang Tanah F6. Penelitian Palawija.Vol. 7(1): 70-78.

Random